![]() |
KAMPUNG PAUS (Lamalera dan Lamakera)
Dahulu ketika melihat beberapa acara di televisi yang berhubungan dengan aktivitas laut dan ikan saya merasa kagum kepada beberapa orang disana. Dan memang luar biasa ikan yang mereka dapatkan dengan dengan memancing itu ukuran yang besar, bahkan ada yang mencapai 10 kg (biasa disebut monster). kita sebut saja beberapa acara tersebut seperti Mancing Mania...Mantap, atau ada juga Mantap Mancing...yess. ingin rasanya saya ikut kegiatan bersama anggota para pemancing tersebut.
| transportasi umum menuju Lamalera |
Perlahan tapi pasti, persepsi saya mulai berubah tentang kekaguman pada acara tersebut. ini terjadi ketika saya mendapatkan surat tugas mengajar di wilayah Provinsi Nusa Tenggara timur.
Pada waktu libur mengajar saya menyempatkan diri mengunjungi sebuah daerah di Flores bernama Lamalera. banyak orang bilang bercerita di daerah tersebut biasa dilakukan perburuan paus setiap tahunnya.
bermodalkan rasa penasaran dan jiwa petualang, saya mengunjungi tempat tersebut setelah melakukan wawancara dengan berbagai pihak. dengan perjalanan darat menggunakan truk terbuka dari pusat kab. lembata saya sampai di tempat tersebut
benarlah adanya informasi yang beredar. di Lamalera memang orang terbiasa bergulat dengan paus. perburuan paus dilakukan pada saat paus bermigrasi dari samudera hindia menuju samudera atlantik yang berkisar antara bulan Mei-Oktober dengan rute melewati Laut Sawu, tepat di laut tempat nelayan Lamalera mencari ikan.
Pada musim ikan paus bermigrasi, pada nelayan Lamalera sudah menyiapkan beberapa alat yang biasa digunakan untuk berburu, diantaranya:
1. Peledang, perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan. biasanya 1 peledang berisi 9 orang
2. tombak panjang untuk melumpuhkan ikan paus
3. pisau/parang panjang, untuk berjaga-jaga.
4. perahu mesin berisi 2 orang untuk menarik paus
selain alat yang digunakan, ditunjuk juga beberapa orang penombak yang biasa di sebut lamafa. Lamafa bertugas menancapkan tombak pada tubuh ikan paus. Tugas lamafa sangat krusial dan dramatis karena jika ada kesalahan sedikit saja nyawa lamafa menjadi taruhanya.
Berdasarkan petunjuk nenek moyang dan para ketua adat, warga Lamalera hanya memburu beberapa jenis paus:
1. Paus Sperma atau Koteklema yang memiliki semburan tepat diatas keningnya. Untuk paus jenis ini lamafa harus menancapkan tombak tepat di belakang kepalanya, karena disitulah bagian yang paling lunak
2. Paus pembunuh atau Orca atau seguni (istilah setempat). Untuk paus jenis ini lamafa harus lebih cerdik dan mempunyai akurasi tinggi, karena lamafa harus menghujamkan tombak di bagian ketiak dengan kekuatan penuh sehingga dapa menancap sampai ke jantung. Paus jenis ini mempunyai kekuatan dan keganasan yang luar biasa dibanding paus lainnya. namun paus jenis ini jarang sekali melewati wilayah Lamalera, hanya setahun sekali atau tidak sama sekali.
Selain jenis paus di atas, para nelayan TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk memburu paus biru atau kelaru yang mempunyai semburan tepat di atas kepala mereka berdasarkan perintah nenek moyang.
Pada musim berburu paus, para lamafa dan nelayan tidak berputar-putar mencari paus di tengah laut. Mereka tetap beraktifitas seperti biasa. Ada yang membelah kayu, mencari ikan kecil, berdagang, bercerita, dll. Pada saat paus terlihat, orang yang pertama melihat paus akan meneriakkan "BALEOO...BALEOO...BALEO" yang maksudnya Paus sudah terlihat/sudah datang. Setiap orang yang mendengar harus melanjutkan pesan tersebut sehingga dengan cepat kata BALEO akan terdengar serentak di seluruh penjuru kampung. Para nelayan dan lamafa segera bergegas membawa peledang dan tombak menuju kawanan paus yang biasanya ditandai dengan kawanan lumba-lumba terlebih dahulu.
![]() |
| Perburuan ikan paus di Lamalera, Kab. Lembata, NTT |
Semua peledang bekerja sama menggiring paus menuju sang lamafa. ketika sudah mencapai jarak ideal, sang lamafa langsung menghujamkan tombaknya tepat pada keleahan paus tersebut. Peristiwa ini merupakan yang paling menegangkan karena tak jarang bidikan lamafa meleset akibat gerakan paus yang tiba-tiba. Ketika tombak menancap dalam, maka para awak kapal segera bersiaga, satu sabetan ekor paus dapat melulhlantahkan peledang mereka. para awak harus menjaga jarak dan memanjangkan tali yang mengikat tombak. lamafa yang lain ikut menancapkan tombaknya kembali.
Paus akan melemah sekitar 30-60 menit. saat paus benar-benar mati para awak kapal mengikatkan tali untuk mengikat dan menarik paus.
| pengikatan paus (goris bona) |
Paus kemudian ditarik ke daratan dan dibagi secara merata kepada seluruh warga yang mempunyai hubungan dengan wilayah Lamalera. Pembagian daging paus merupakan tradisi turun-temurun yang ditaati oleh seluruh wara Lamalera. Masing-masing sudah tau hak dan bagiannya sehingga dipastikan tidak akan ada rebutan seperti pembagian BLT atau hewan kurban saat idul adha. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
1. awak perahu dapat bagian paus dengan istilah "meng".
![]() |
| pembagian meng untuk para awak |
2. Bagian sirip kanan dan kiri masing-masing untuk rumah adat dan lamafa.
3. Bagian kepala diberikan kepada Lango Pujo atau Suku Tuan Tanah.
![]() |
| pemotongan kepala untuk lango pujo |
4. Ekor dibagi menjadi banyak bagian untuk lamafa, lamauri, laba ketilo, matros.
5. Para janda mendapatkan hak daging paus
![]() |
| para janda pun mendapatkan hak daging paus |
begitulah sepenggal cerita perjalanan ketika berkunjung ke Lamalera atau saya lebih suka menyebutnya dengan nama kampung paus.




